Terkuak Cara Rahasia Orang China Bisa Sukses & Kuasai Dunia

uang

Kemampuan orang China dalam menjalankan roda bisnis hingga kerap kali terlihat sukses sudah banyak disadari masyarakat luas. Bahkan, sampai muncul peribahasa di kalangan orang Arab yang juga turut terkenal di tengah-tengah masyarakat Indonesia berbunyi “Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina.”

Peribahasa itu menjadi saksi bagaimana orang China sejak 2.000 tahun lalu telah mampu menguasai pasar global melalui jalur sutra yang membentang sepanjang 6.000 kilometer dari China ke Timur Tengah. Karenanya, sejarah ekonomi dunia juga tidak pernah dapat dipisahkan dari keberadaan China.

Di zaman modern, kedigdayaan China semakin tak terkalahkan. Penduduknya yang melakukan migrasi ke negara lain sukses membangun gurita bisnis. Di Indonesia, dari daftar 10 orang terkaya versi Forbes pada 2022, hanya Chairul Tanjung dan Sri Prakash Lohia saja yang bukan keturunan China.

Jika melihat pada kisah kesuksesan keturunan Tionghoa, mereka punya pola yang sama: pergi dari China, sampai di negeri orang, menjalin bisnis, dan kaya raya. Tapi, yang jelas menjadi kaya raya memang tujuan orang Tionghoa.

Dalam buku The Dragon Network (2013) karya A.B Susanto dan Patricia Susanto, disebutkan bahwa di dalam komunitas Tionghoa akumulasi kekayaan diartikan sebagai standar kejayaan seseorang atau keluarga. Menjadi kaya adalah sumber dari segala keistimewaan dan status.

Atas dasar keyakinan ini orang Tionghoa rela bekerja lembur siang malam dan kerja keras bagai kuda untuk mengejar kekayaan. Mereka percaya proses tidak akan mengkhianati hasil.

Untuk meraih itu kebanyakan orang Tionghoa, sadar atau tidak, terpengaruh ajaran Konfusianisme. Ajaran ini menjadi resep utama kesuksesan mereka. Konfusianisme adalah ajaran yang menyebar di Asia Timur, khususnya China, yang dilahirkan oleh filsuf China bernama Kongzi.

Dalam ajaran tersebut ada lima etika: Ren (kemanusiaan), Yi (kebenaran atau keadilan), Lie (kesopanan atau tata krama), Zhi (pengetahuan), dan Xin (integritas). Jika seluruhnya dijalankan maka akan lahir sikap kebajikan seperti keberanian, adaptabilitas, kepercayaan diri, kedisiplinan, motivasi kuat, kejujuran, kreativitas dan visioner.

Selain itu, Konfusianisme mengharuskan pula seseorang untuk melakukan peran dan fungsinya di dalam masyarakat tanpa mengganggu jalannya peran dan fungsi orang lain, alias fokus pada usaha sendiri. Pedagang harus berperan sebagai pedagang, tidak bisa pedagang memegang peran sebagai raja. Namun, bukan berarti tidak diperbolehkan menjalin relasi.

Irene dan Rosalie dalam Achieving Business Success in Confucian Societies: The Importance of Guanxi (Connections) (2016) menyebut, relasi atau Guanxi menjadi aspek penting dan pembuka rezeki. Guanxi digambarkan sebagai hubungan pribadi antar dua orang yang terjalin karena saling membutuhkan yang hasilnya berupa simbiosis mutualisme. Kedua orang tersebut tidak harus punya status sosial serupa. Kelak, jalinan yang tercipta akan membuat orang Tionghoa mendapat keuntungan karena semakin dikenal, salah satunya membuat bisnisnya moncer.

Karena itu, bagi orang Tionghoa berkenalan adalah aspek penting, meskipun tidak semua hasil perkenalan berakhir keuntungan. Pengusaha Sudono Salim bisa menjadi contoh. Pendiri Salim Group ini banyak berkenalan dengan orang lain, baik itu dari kaum elite, pengusaha, atau orang biasa. Pertemuan Salim dengan Soeharto, Mochtar Riady, Ciputra, Tahir, dan berbagai orang lainnya sukses melahirkan kerajaan bisnis yang sangat besar.

Setelah memegang ajaran Konfusianisme dan membangun relasi, langkah selanjutnya kata A.B Susanto adalah memperkuat keluarga. Dalam pandangan tradisional China, berhasil mengharumkan nama keluarga adalah kejayaan luar biasa. Maka, tiap orang tua pasti akan mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai kebajikan agar anaknya dapat menjaga atau membesarkan kejayaan keluarga.

Keluarga adalah hal yang harus dilindungi karena inilah bisnis orang Tionghoa terkenal menjadi bisnis keluarga. Para orang tua yang sukses membangun bisnis memiliki kewajiban untuk mengajar anak-anaknya. Tak heran kalau perusahaan besar di Indonesia terus dipegang oleh keluarga inti dari generasi ke generasi. Pendirian bisnis keluarga juga bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan bagi seluruh keluarga.

Yang tak kalah penting dan harus menjadi dasar bagi mereka adalah menghormati leluhur. Setiap orang Tionghoa diharuskan menghormati orang tua dan leluhurnya. Tidak boleh menjelek-jelekan mereka. Jika sudah sukses diharuskan pula untuk membangun kampung halamannya. Apabila tidak dilakukan, dikhawatirkan kehidupannya akan sulit dan tidak berkah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*