Tak Cuma di Negara Arab, Ateisme Semakin Banyak di Dunia

Gurun pasir di bagian utara Arab Saudi dekat perbatasan Irak, Rafha, berubah menjadi padang lavender usai bunga bermekaran di wilayah tersebut. (AFP via Getty Images/FAYEZ NURELDINE)

 Dalam satu dekade terakhir, beberapa survei menyebutkan terjadi pergeseran keyakinan di negara-negara Arab. Seperti diketahui, wilayah tersebut mayoritas beragama Muslim, pada 2015 saja terdapat 317 juta umat Muslim atau sekitar 93% dari total penduduk, berdasarkan data dari PEW Reserach Center.

Belakangan, terjadi peningkatan penduduk penganut Ateisme di negara-negara Arab.

Menurut BBC International terjadi peningkatan persentase penduduk yang tidak beragama, dari awalnya hanya 8% pada 2013 menjadi 13% pada 2019.

Nyatanya tidak hanya di Arab, ateisme kini semakin tumbuh di dunia. Pada September 2022 lalu, tim peneliti yang dipimpin Queen’s University Belfast meluncurkan proyek ‘Menjelaskan Ateisme’, untuk menguji teori-teori populer maupun akademis tentang mengapa orang menjadi ateis.

“Ada semakin banyak ateis/agnostik di negara-negara di seluruh dunia. Program kami ‘Memahami Ketidakpercayaan’ yang baru saja selesai melihat lebih jauh dari stereotip dan membantu mendokumentasikan beberapa keragaman dunia dalam ateisme dan agnostisisme,” kata Dr. Jonathan Lanman, dari Queen’s University Belfast yang memimpin proyek ‘Menjelaskan Ateisme’, sebagaimana dilansir Newswise, September lalu.

Dr. Lanman menyebut ‘Menjelaskan Ateisme’ bertujuan menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana atesime bisa tumbuh, dan diharapkan bisa memberikan pertimbangan mengenai masa depan agama, ateisme, agnotisisme dan untuk masyarakat.

Penelitan tersebut akan dilakukan di enam negara utama, yakni Brasil, China, Denmark, Jepang, Inggris dan Amerika Serikat. Selain itu, tim yang lebih besar berafiliasi dengan peneliti di Mesir, Tunisia, Maroko, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Lebanon, Selandia Baru, Republik Irlandia, Norwegia, Finlandia, Mauritius dan Polandia.

Proyek ini berlangsung selama tiga tahun dan mendapatkan pendanaan sebesar 2,7 juta poundsterling dari John Templeton Foundation.

Banyak Isu beredar kalau orang yang tidak mementingkan agama atau tidak beragama (Ateis) akan lebih bahagia ketimbang yang beragama. Namun, survei yang dilakukan Pew Research Center pada 2019 tidak mengkonfirmasi hal tersebut.

Survei dilakukan di 36 negara, sebanyak setengah negara tersebut mayoritas warganya yang aktif melakukan ritual keagamaan menyatakan “sangat bahagia” dengan hidup mereka. Survei yang dilakukan di Amerika Serikat misalnya, sebanyak 36% yang beragama aktif menyatakan “sangat bahagia”, sementara yang tidak aktif beragama atau pun ateis hanya 25% yang menyatakan “sangat bahagia”.

Di sisi lain, para peneliti dari University of Cologne sebagaimana dilansir Daily Mail pada pertengahan 2021 lalu mengatakan agama dan kebahagiaan sangat tergantung dari negaranya. Di negara yang fanatik dengan agama, para ateis akan merasa kurang bahagia dengan hidup mereka, sebaliknya di negara yang lebih liberal, mereka akan lebih bahagia.

Hal tersebut dikatakan terkait dengan diskriminasi yang dialami kaum ateis di negara yang fanatik dengan agama.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*