RI Menuju Negara Maju, Asal Banyak Orang Nikah & Punya Anak!

Wakil Presiden Ma'ruf Amin dalam Musrenbangnas RKP 2024 dan Peluncuran Proyeksi Penduduk 2020-2050. (Tangkapan Layar Youtube Bappenas RI)

Pemerintah mengaku was-was dengan adanya tren penyusutan jumlah penduduk di tanah air. Setelah bisa menghasilkan bonus demografi pada 2030, pertumbuhan jumlah penduduk diperkirakan akan melambat. Lantas, bagaimana peluang Indonesia menjadi negara maju di 2045?

Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengungkapkan, bonus demografi menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia. Sejumlah negara, berhasil memanfaatkan bonus demografinya dan berhasil meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapitanya hingga tiga kali lipat.

“Bagi Indonesia, tentu ini menjadi peluang https://situs888gacor.com/ emas. Bagaimana bonus demografi yang ada bisa dioptimalkan untuk memacu PDB per kapita agar Indonesia dapat masuk ke dalam kategori upper middle income country di 2025,” jelas Ma’ruf dalam acara Musrenbangnas RKP 2024 dan Peluncuran Proyeksi Penduduk 2020-2050, Selasa (16/5/2023).

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengungkapkan, jumlah penduduk di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat hingga 2050, dengan tingkat pertumbuhan yang melambat setiap tahunnya.

Data Bappenas menunjukkan, jumlah penduduk di Indonesia pada 2020 mencapai 269 juta jiwa dan diperkirakan akan meningkat menjadi 284 juta jiwa pada 2025. Jumlahnya juga akan terus meningkat hingga 2045 atau di saat Indonesia mencapai usia keemasan 100 tahun.

Jumlah penduduk di Indonesia kemungkinan akan mencapai 324 juta pada 2045, bertambah 54,42 juta orang dari 2020. Kendati demikian, pertumbuhan penduduk periode 2020-2050 rata-rata hanya mencapai 0,67% per tahunnya, dan diperkirakan akan terus melambat setiap tahunnya.

Oleh karena itu, Wapres Ma’ruf meminta agar masyarakat Indonesia tidak menunda pernikahan. Karena ke depan, struktur demografi Indonesia diperkirakan didominasi kelompok tua.

“Jadi anjurannya itu dilakukan keseimbangan jadi jangan menunda nikahnya, sebab kalau tidak, nanti prediksinya yang banyak yang tua. Yang muda yang produktif itu rendah,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri PPN/Kepala Bappenas mengungkapkan, proporsi penduduk usia 0-14 tahun turun dari 24,56% pada 2020 menjadi 19,61% pada 2045. Sementara penduduk usia 65 tahun ke atas naik dari 6,16% menjadi 14,61% pada 2045.

Adapun penduduk usia kerja 15-64 tahun juga menurun dari 69,28% menjadi 65,79% pada periode yang sama.

Pada 2025, kata Suharso Indonesia masih menjadi negara urutan nomor 4 di dunia, sebagai negara yang akan memiliki jumlah penduduk terbanyak. Dengan perkiraan jumlah populasi mencapai 285,55 juta jiwa pada 2025, mengalahkan Pakistan dan Nigeria, yang diperkirakan populasinya masing-masing mencapai 249,95 juta jiwa dan 234,57 juta jiwa.

Adapun tahun ini India menjadi negara dengan penduduk terbesar nomor satu di dunia mengalahkan China dan Amerika Serikat.

Nah, pada 2045 jumlah penduduk di Indonesia meskipun masih akan bertambah menjadi 324,05 juta jiwa, namun turun peringkat menjadi peringkat ke-6 di dunia yang memiliki jumlah populasi terbanyak.

“Indonesia akan dikalahkan dengan Nigeria yang akan menempati urutan keempat dan Pakistan yang akan menempati urutan kelima pada 2045 (sebagai negara dengan jumlah populasi terbesar),” jelas Suharso.

Untuk mengatasi masalah ini, kata Suharso, pemerintah telah menyiapkan tiga skenario untuk meningkatkan jumlah penduduk di Indonesia, dengan skenario tanpa ada kebijakan, skenario moderat, hingga skenario optimis.

Skenario dengan tren tanpa adanya kebijakan, hasilnya angka kelahiran total atau total fertility rate (TFR) di Indonesia bisa terus menyusut hingga di angka 1,9 pada 2045, diiringi dengan infant mortality rate/IMR (angka kematian bayi) mencapai 7,85.

Indonesia juga memiliki skenario moderat, yang menargetkan TFR dijaga pada angka 2 dan IMR mencapai 5,8%. Sementara dengan skenario optimistis, pemerintah mengungkapkan akan mencapai target usia harapan hidup sampai 80 tahun, yang sederajat dengan negara maju. Dengan nilai TFR dijaga pada 2 dan IMR mencapai 4,2.

Sebagai gambaran, fertilitas atau kelahiran merupakan salah satu faktor penambah jumlah penduduk disamping migrasi. Apabila angka fertilitas lebih besar daripada angka mortalitas, maka pertumbuhan penduduk menjadi positif, maka otomatis jumlah penduduk akan lebih banyak.

Begitu pun sebaliknya, jika angka mortalitas lebih tinggi dibandingkan angka fertilitas, maka berpengaruh negatif terhadap demografi. Semakin meningkat jumlah kematian, maka pertumbuhan penduduk akan semakin rendah.

Pada akhirnya, kata Suharso, setiap kebijakan pemerintah nantinya harus diperhitungkan dengan matang, agar cita-cita Indonesia untuk menjadi negara maju pada 2045 bisa tetap terwujud. Sekalipun Indonesia diliputi ancaman pertumbuhan jumlah penduduk yang melambat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*