Parah! Pabrik Tekstil Ternyata Diam-diam Masih PHK, Ada Apa?

Ilustrasi pabrik garmen. (AP/Mahmud Hossain Opu)

Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di pabrik-pabrik tekstil dan produk tekstil (TPT) ternyata masih terjadi.
Terbaru, pabrik pemasok pakaian merek global, ‘Puma’, melakukan PHK terhadap 1.163 buruh. Pabrik berlokasi di Cikupa, Kabupaten Tangerang ini memutuskan menutup pabrik secara permanen karena sudah tidak ada lagi produksi.

“Perusahaan itu bukan anggota API. Jadi saya tak bisa berkomentar banyak,” kata Wakil Ketua Bidang Ketenagakerjaan dan Pengembangan SDM BPP Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Nurdin Setiawan kepada CNBC Indonesia, Selasa (4/4/2023).

“Tapi memang PHK di pabrik tekstil dan produk tekstil itu, dari hulu ke hilir, masih terjadi. Anggota API juga masih ada yang PHK, tapi tidak sampai tutup atau bangkrut,” tambahnya.

Dia menuturkan, sejak tahun 2022, pabrik TPT di dalam negeri memang mengalami tekanan beruntun sejak pandemi Covid-19.

“Kalau bicara keseluruhan kondisi industri, setelah pandemi, lalu pada awal tahun 2022 mulai terjadi perlambatan ekonomi global. Terutama di negara tujuan ekspor TPT, seperti Amerika Serikat, Amerika Latin, dan Eropa,” katanya.

“Ditambah geopolitik yang berdampak ke ekonomi dunia. Lalu terjadi stagflasi, terjadi kenaikan¬†harga bahan baku nggak diimbangi kenaikan harga garmen,” ujar Nurdin.

Kondisi itu memicu penurunan order di pasar ekspor, berakibat pada anjloknya utilisasi pabrik.

Efek dominonya, membuat pabrik harus melakukan PHK untuk memangkas biaya operasional perusahaan.

“Sampai November 2022, PHK di pabrik TPT, hulu ke hilir itu sudah mencapai 87.000 orang. Tapi, data riil dari November 2022 ke kuartal-I tahun 2023 ini belum ada. Tapi, PHK masih terjadi. Dari 87 ribu itu, sebanyal 65% terjadi di pabrik garmen,” ungkap Nurdin.

“Karena memang kondisinya belum pulih. Order itu belum membaik. Karena itu harapan kita adalah pasar domestik. Tapi seperti yang diketahui, pasar domestik saat ini pun tengah digempur produk impor, termasuk yang ilegal pakaian bekas,” tukasnya.

Saat ini, imbuh dia, memang beberapa pabrik sudah melakukan perekrutan kembali karyawan yang sebelumnya di-PHK.

“Tapi itu pabrik yang orientasi domestik, untuk memenuhi permintaan Lebaran ini. Setelah Lebaran kita belum tahu kondisinya,” kata dia.

“Memang, ada momen sekolah, tapi nggak semua pabrik bisa membuat seragam sekolah. Itu sebabnya kita masih hanya bisa berharap pada pasar domestik. Kalau order ekspor sekarang belum pulih,” ujarnya.

Seperti diketahui, sebuah pabrik pakaian pemasok merek global, Puma, hari ini dikabarkan tutup hingga menyebabkan 1.163 karyawannya menganggur.

Hal itu dikonfirmasi oleh Dinas Ketenagakerjaan Tangerang.

“Iya betul, PT Tuntex Garment tutup, tutup berhenti produksi tanggal 31 Maret 2023,” kata Kabid Hubungan Industrial Disnaker Kabupaten Tangerang Desyanti kepada CNBC Indonesia, Selasa (4/4/2023).

“Penyebabnya akibat order menurun sejak 3 tahun akibat covid-19 dikarenakan market penjualannya produk Puma hasil produksi Tuntex sebagian besar marketnya Eropa, dan Amerika dan saat ini sedang krisis akibat inflasi yang menyebabkan produksi tuntex terud menurun sejak 3 tahun,” jelas Desiyanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*