Musik Eropa Ternyata Terinspirasi Gamelan Jawa, Kok Bisa?

Siswa Sekolah di Bagnolet Paris sangat menggemari gamelan Jawa dan Wayang Kulit. Ist

Sejak pagi hari Claude Debussy bersiap-siap untuk menghadiri perayaan 100 tahun Revolusi Prancis dalam pameran internasional bertajuk Exposition Universelle. Sebagai komponis, tentu dia ingin menyaksikan pertunjukan kesenian dari berbagai wilayah di dunia, selain juga melihat megahnya Menara Eiffel yang baru diresmikan.

Sesampainya di sana, dia mengamati satu per satu kesenian secara seksama. Hingga akhirnya, perhatiannya teralihkan ketika tiba di venue le village Javanais yang ditempati Kerajaan Belanda. Dia merasa asing dengan pertunjukan seni yang dibawakan orang-orang dari negeri koloni bernama Hindia Belanda, tepatnya Jawa, tersebut.

Lantunan musiknya berasal dari lempengan perunggu yang dipukul oleh alat khusus. Beberapa kali juga dibarengi alat perkusi yang ditabuh dengan lembut. Bersamaan dengan itu ada penari kecil berlenggak-lenggok menyesuaikan alunan musik.

Bagi Debussy, aksi ini sangat indah karena mereka sukses memainkan alat musik berbeda nada dalam satu keharmonisan. Ditambah lagi ada penari yang menyesuaikan ritme nada tersebut. Dia takjub karena di Barat musiknya cenderung sama dan tidak ada satupun yang seperti ini.

Setelah dilihat dari dekat diketahui kalau rombongan tersebut adalah kelompok Sari Oneng dari Sukabumi yang membawakan komposisi asli Sunda lengkap dengan Gamelan Jawa. Lalu penarinya berasal dari Kesultanan Solo.

Pertemuan pertamanya dengan orkes Sunda dan gamelan jawa telah membuat komponis muda itu jatuh hati. Sebagaimana dipaparkan Patrick Revol dalam Pengaruh Musik Indonesia pada Musik Prancis Abad ke-20 (2021), Debussy melihat musik Jawa tak hanya memiliki keelokan, tetapi juga sugesti yang tidak biasa.

“Di dalam Gamelan Jawa, kutemukan keindahan lain yang tidak kutemukan dalam estetika musik Barat: suatu keindahan musik dari ‘dunia asing’ yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata,” kata Debussy dikutip Raymond Roy Park dalam The Later Style of Claude Debussy (1967).

Musik Jawa mampu menghasilkan bunyi harmonis, sekalipun para pemusiknya tidak memiliki keahlian tinggi setara komponis ternama Eropa. Artinya, ini disebabkan murni oleh alat musiknya saja.

Bagi Debussy, aksi ini sangat indah karena mereka sukses memainkan alat musik berbeda nada dalam satu keharmonisan. Ditambah lagi ada penari yang menyesuaikan ritme nada tersebut. Dia takjub karena di Barat musiknya cenderung sama dan tidak ada satupun yang seperti ini.

Setelah dilihat dari dekat diketahui kalau rombongan tersebut adalah kelompok Sari Oneng dari Sukabumi yang membawakan komposisi asli Sunda lengkap dengan Gamelan Jawa. Lalu penarinya berasal dari Kesultanan Solo.

Pertemuan pertamanya dengan orkes Sunda dan gamelan jawa telah membuat komponis muda itu jatuh hati. Sebagaimana dipaparkan Patrick Revol dalam Pengaruh Musik Indonesia pada Musik Prancis Abad ke-20 (2021), Debussy melihat musik Jawa tak hanya memiliki keelokan, tetapi juga sugesti yang tidak biasa.

“Di dalam Gamelan Jawa, kutemukan keindahan lain yang tidak kutemukan dalam estetika musik Barat: suatu keindahan musik dari ‘dunia asing’ yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata,” kata Debussy dikutip Raymond Roy Park dalam The Later Style of Claude Debussy (1967).

Musik Jawa mampu menghasilkan bunyi harmonis, sekalipun para pemusiknya tidak memiliki keahlian tinggi setara komponis ternama Eropa. Artinya, ini disebabkan murni oleh alat musiknya saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*