Keras! Pemerintah RI Sebut Kecewa dengan Shell, Ada Apa?

FILE PHOTO: A passenger plane flies over a Shell logo at a petrol station in west London,  January 29, 2015. REUTERS/Toby Melville

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan kekecewaannya terhadap keputusan perusahaan Raksasa Migas, Shell yang cabut dari proyek Blok Masela.

Kekecewaan itu ditambah dengan sikap Shell, di mana negosiasi pengalihan hak partisipasi atau participating interest (PI) ke Pertamina sebesar 35% oleh perusahaan asal Belanda tersebut berlangsung lama.

Direktur Jenderal Minyak https://rtpnada4d.com/ dan Gas Bumi Tutuka Ariadji mengatakan dengan lamanya proses negosiasi pengalihan PI Shell sebesar 35% di Blok Masela, pemerintah terpaksa harus kehilangan kesempatan untuk memanfaatkan sumber gas dari Blok Masela ini.

“Begini Masela itu kan agak lama, jadi pemerintah kehilangan opportunity-nya panjang itu akhirnya Pak Menteri menyampaikan kecewa lah jadi kami ingin follow up mau revisit pod-nya,” ujar Tutuka saat ditemui di Gedung DPR, Selasa (23/5/2023).

Oleh sebab itu, dalam waktu dekat ini pemerintah akan meninjau kembali perencanaan pengembangan atau biasa yang disebut Plan of Development (POD) yang telah disusun operator. Inpex sendiri diketahui memegang kepemilikan hak partisipasi sebesar 65% di Blok Masela.

“Kita lihat pod-nya gimana kok bisa lama sekali. (Mengenai harga) itu urusan bisnis saya gak bisa menyatakan tapi pemerintah kecewa karena terlalu lama,” kata Tutuka.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan negosiasi pengambilalihan hak partisipasi Shell di Blok Masela sebesar 35% oleh PT Pertamina (Persero) berjalan alot.

Menurut Arifin seharusnya Shell dapat lebih fleksibel mengenai pelepasan PI di Blok Masela. Mengingat perusahaan asal Belanda tersebut sudah lama menancapkan bisnisnya di Indonesia.

“Masih dalam proses negosiasi ya agak alot karena Shell itu ya mestinya dia lebih ngerti karena sejarahnya Shell di Indonesia sudah berapa lama ya. Dia (dapat) manfaatnya udah banyak. Sejak dulu Shell kan ada makanya ini untuk kepentingan Indonesia dia gak mau fleksibel,” ungkap Arifin ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jumat (19/5/2023).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*