‘Hantu’ Baru Ancam Eropa, Apa Dampaknya ke Harga Batu Bara?

Pekerja membersihkan sisa-sisa batu bara yang berada di luar kapal tongkang pada saat bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (22/11/2021). Pemerintah Indonesia berambisi untuk mengurangi besar-besaran konsumsi batu bara di dalam negeri, bahkan tak mustahil bila meninggalkannya sama sekali. Hal ini tak lain demi mencapai target netral karbon pada 2060 atau lebih cepat, seperti yang dikampanyekan banyak negara di dunia. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Harga batu bara akhirnya bangkit pada pekan lalu. Harga batu bara diperkirakan juga masih membaik pada pekan ini ditopang oleh kekhawatiran baru di Eropa serta ancaman melemahnya produksi di China.

Pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (24/2/2023), harga batu bara kontrak Maret di pasar ICE Newcastle ditutup menguat 1,19% ke posisi US$ 204,25 per ton.

Secara keseluruhan, harga batu bara terbang 11,61% pada pekan lalu. Penguatan tersebut mengakhiri catatan buruk pasir hitam yang terus selama tujuh pekan sebelumnya.

Sepanjang pekan lalu, harga batu bara menguat dalam empat hari dan hanya sekali melemah.

Harga batu bara diperkirakan masih akan membaik pekan ini setelah dua kabar buruk dari China dan Eropa mulai membuat pasar khawatir akan pasokan. Kabar buruk dari China dan Eropa.

Eropa tengah dilanda kekhawatiran baru berupa musim panas yang kering.

Musim dingin yang lebih hangat pada tahun ini memang menyelamatkan Eropa dari krisis energi. Data Copernicus climate monitor menunjukkan cuaca musim dingin pada Januari 2023 menjadi yang terhangat ketiga dalam sejarah.

Namun, musim dingin yang kering tersebut membawa konsekuensi lebih lanjut. Salju yang turun lebih sedikit dan curah hujan yang lebih rendah membuat Eropa bisa dilanda kekeringan parah pada musim panas tahun ini.

Jika ketakutan ini terjadi maka penggunaan listrik untuk pendingin ruangan bisa melonjak sehingga permintaan sumber energi juga meningkat. Alhasil, harga sumber energi seperti batu bara dan gas pun bisa melonjak.

Tanda-tanda kekeringan sudah terlihat dari rendahnya permukaan sungai, kanal, dan danau di hampir seluruh Benua Biru.

Penelitian dari Graz University of Technology Austria menunjukkan sumber air di dalam tanah sudah jauh berkurang.

“Setahun yang lalu, saya tidak pernah membayangkan jika air akan menjadi masalah di Eropa. Namun, kita benar-benar tengah dihadapkan pada pasokan air saat ini. Kita harus segara memikirkan persoalan ini,” tutur salah satu peneliti Torsten Mayer-Gürr, dikutip dari CNN International.

Gurr menambahkan Prancis merupakan salah satu negara yang kemungkinan akan menghadapi kekurangan air pada musim panas mendatang.

Kondisi tanah Prancis pada saat ini adalah yang terkering selama 60 tahun terakhir karena tidak ada hujan selama 32 hari beruntun sejak 21 Januari-hingga 21 Februari.

Musim panas yang kering dan parah akan menimbulkan persoalan baru bagi pasokan sumber energi yakni terganggunya lalu lintas pengiriman barang, termasuk batu bara.
Jerman sudah mengalami hal tersebut pada musim lalu akibat rendahnya permukaan Sungai Rhine.

Lalu lintas impor batu bara sempat terhambat di tengah upaya Jerman untuk menggenjot pasokan.  Sebagai catatan, impor batu bara Jerman melonjak 8% pada 2022 menjadi 44,4 juta ton.

Ledakan tambang di wilayah China Inner Mongolia pada pekan lalu menewaskan enam orang dan masih ada 49 orang yang dinyatakan hilang.

Ledakan tersebut menambah jumlah kecelakaan di pusat pertambangan batu bara Tiongkok.

Badan Keselamatan Pertambangan Nasional China (NMSA) menyebut jumlah kecelakaan pada 2022 mencapai 168, melonjak dibandingkan yang tercatat pada 2021 (91).

Korban tewas bahkan melonjak enam kali lipat yakni sebanyak 245 orang pada 2022.

Meningkatnya kecelakaan ini berbarengan dengan upaya gencar pemerintah China untuk melipatgandakan jumlah produksi.

Tiongkok menaikkan target produksi hingga 9% pada tahun lalu menjadi 4,5 miliar ton.

Pintu tambang di Inner Mongolia yang mengalami kecelakaan sebenarnya sudah ditutup. Namun, kembali dibuka pada April 2201 menyusul kembali melonjaknya harga batu bara.

Kembali terjadinya kecelakaan ini membuat banyak pihak yang meminta NMSA untuk meningkatkan keselamatan pekerja.

“Memperbaiki keamanan penambangan seperti mendorong batu besar ke atas bukit dengan melewati banyak rintangan. Namun, kami harus memastikan pasokan dan keamanan saling berjalan,” tutur NMSA, dikutip dari Reuters.

Inner Mongolia bersama Shanxi adalah dua wilayah di China yang menjadi pusat pertambangan batu bara. Kedua wilayah yang sudah menargetkan kenaikan produksi masing-masing 5% dan 2% pada tahun ini.

Namun, kecelakaan pekan lalu bisa berdampak kepada berkurangnya produksi karena aktivitas di salah satu pertambangan tutup.

Otoritas Inner Mongolia dan Shanxi sudah meminta produsen batu bara untuk meningkatkan keamanan dan meminta otoritas daerah untuk melakukan inspeksi lebih lanjut.

Investigasi lanjutan pada tambang tersebut atau pada tambang lain bisa berdampak ke produksi.

Penutupan pertambangan bahkan sudah membuat batu bara menanjak. Batu bara kokas kontrak Mei pada  China’s Dalian Commodity Exchange (DCE)  naik 2,6% menjadi  CNY 2.020,50 yuan ($293,35) per ton pekan lalu.

“Sepertinya inspeksi keamanan akan menjadi ketat,” tulis analis Huatai Futures, dikutip dari mining.com.

Peningkatan produksi juga tengah dilaporkan dari India. Negara Bollywood  dilaporkan jika 10 blok batu bara kokas yang dilelang pada dua tahun terakhir sudah memulai produksi pada 2025.

India menargetkan produksi batu bara mereka tembus 1,31 miliar ton pada 2024-2025. Produksi batu bara India melonjak 16% pada periode April 2022 -Januari 2024 menjadi 698,25 ton.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*