Eks Sekjen NATO Minta Eropa Bantu Taiwan Lawan China

Jet tempur Mirage Angkatan Udara Taiwan di landasan pacu di pangkalan udara di Hsinchu, Taiwan, Jumat (5/8/2022). China telah memulai latihan militer di dekat wilayah Taiwan sejak Kamis (4/8). Dalam latihan itu, China mengerahkan rudal balistik, jet tempur, dan kapal perang di sekitar Taiwan. (AP Photo/Johnson Lai)

Mantan Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Anders Fogh Rasmussen, menyebut Eropa dan aliansinya terlalu naif atas serangan Rusia ke Ukraina, sehingga ada risiko mengulangi kesalahan yang sama atas China ke Taiwan.

Rasmussen mengatakan kekuatan Eropa harus berbuat lebih banyak untuk mencegah China menyerang Taiwan, termasuk bersiap untuk melepaskan sanksi ekonomi yang menyakitkan dan melatih pasukan Taiwan.

“Dunia sejauh ini belum cukup memperhatikan ketegangan di Selat Taiwan,” kata Rasmussen kepada wartawan dalam kunjungannya ke Taipei pada Kamis (5/1/2023), mengutip¬†AFP.

“Dan kita harus menyadari bahwa konflik antara China dan Taiwan memiliki, dan akan memiliki, dampak global. Jadi kita memiliki kepentingan global untuk mencegah ketegangan tersebut meningkat menjadi konflik bersenjata.”

Rasmussen berpendapat bahwa sementara Amerika Serikat (AS) harus tetap menjadi sekutu militer utama Taiwan, kekuatan Eropa dan NATO harus siap menerapkan kebijakan yang akan membuat Beijing berpikir dua kali untuk menyerang Taipei.

“Saya pikir kita harus bereaksi dengan tegas jika China menyerang Taiwan, dan kita harus mengganti ambiguitas strategis dengan kejelasan strategis,” katanya.

Pada tahun-tahun menjelang serangan Kremlin ke negara tetangganya, kekuatan Eropa mulai melatih pasukan Ukraina.

“Kami dapat melakukan hal yang persis sama dengan tentara pria dan wanita dari Taiwan, kami dapat melakukan pelatihan dan latihan seperti itu di tanah Eropa,” ujar Rasmussen.

Dia menambahkan bahwa peralatan pertahanan militer dan dunia maya dapat digunakan bersama untuk membuat Taiwan mampu mempertahankan diri sendiri.

Tetapi di atas semua itu, Rasmussen menyebut kontribusi Eropa harus berupa sanksi yang komprehensif dan mendalam terhadap China jika terjadinya serangan tersebut, meski sanksi semacam itu akan sangat memukul negara-negara Eropa.

“Kami telah membangun Eropa berdasarkan keamanan yang diberikan oleh Amerika Serikat, barang murah dari China dan gas murah dari Rusia. Model itu tidak berfungsi lagi,” bantahnya.

“Kita tidak boleh mengulangi kesalahan ini dengan bersikap terlalu lemah, terlalu akomodatif ketika menyangkut China.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*