Bagaimana Cara Berpuasa di Negara yang ‘Tidak Ada Maghrib’?

A child walks beside beach cabins on a pebbled beach, during sunset as a heatwave hits France, in Cayeux-sur-Mer, France, June 29, 2019. REUTERS/Pascal Rossignol     TPX IMAGES OF THE DAY

Menjalankan ibadah puasa saat Ramadan adalah salah satu kewajiban bagi setiap umat Muslim yang memenuhi syarat dan mampu menjalankannya. Adapun waktu berpuasa adalah dari terbitnya fajar sampai waktu maghrib.

Namun, ada sejumlah negara yang memiliki durasi berpuasa lebih lama karena mereka mengalami waktu siang lebih panjang, terutama ketika memasuki musim panas.

Sejumlah negara yang terletak di sekitar sisi utara Lingkaran Arktik, seperti Norwegia, Swedia, Islandia dan Finlandia, mengalami sinar matahari hingga 23 jam sehari saat puncak musim panas, yakni mulai pertengahan April hingga Juli. Karena itu, ada istilah ‘midnight sun’ di wilayah itu karena penduduk benar-benar masih bisa melihat matahari meski jam sudah menunjukkan waktu tengah malam.

Dengan demikian, nyaris tidak ada waktu maghrib di beberapa negara karena matahari tidak terbenam sepenuhnya di bawah ufuk.

Lantas, bagaimana jika bulan Ramadan jatuh pada puncak musim panas? Bagaimana umat Muslim di negara tersebut berpuasa?

Para ulama sepakat bahwa terdapat kelonggaran syariat bagi umat Muslim yang tinggal di negara dengan fenomena alam yang ekstrem. Muslim yang tinggal di negara-negara dengan matahari tidak terbenam atau hanya turun sesaat dapat mengikuti salah satu dari tiga solusi yang ditawarkan oleh beberapa ulama.

Pilihan dari ketiga solusi tersebut adalah berbuka puasa mengikuti waktu matahari terbenam di negara terdekat yang tidak mendapat matahari secara terus-terusan, mengikuti waktu berbuka di negara mayoritas Muslim terdekat, atau mengikuti waktu Makkah alias Arab Saudi.

Namun, mereka diperbolehkan untuk berpuasa mengikuti waktu setempat di mana mereka tinggal bila sanggup.

Direktur eksekutif Yayasan Islam Islandia, Karim Askari, mengatakan bahwa dua masjid di ibu kota Islandia sepakat untuk mengikuti waktu fajar dan senja setempat untuk memutuskan kapan mereka harus berbuka puasa. Namun, ada juga masjid dan organisasi lain yang memilih untuk mengikuti waktu berbuka negara-negara Eropa lainnya.

“Mereka bisa memilih apa yang mereka inginkan. Kami memiliki kebebasan dalam hubungan masyarakat kami di sini,” kata Askari.

Untuk diketahui, pada Ramadan 2018 lalu, umat Muslim di Islandia harus berpuasa rata-rata selama 21 jam 51 menit. Ini karena Ramadan pada tahun itu jatuh pada puncak musim panas.

Beruntung, pada 2023 ini, Ramadan jatuh pada awal musim panas, sehingga durasi berpuasa menjadi lebih pendek, yakni hingga 17 jam sehari. Meski demikian, tentu saja durasi itu tetap lebih panjang dibanding umat Muslim di Indonesia yang hanya berpuasa selama 13 jam sehari.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*